LOKASI: DESA BONJERUK, LOMBOK TENGAH
NARASUMBER: 1. PAK USMAN
2. PAK HASAN
3. PAK SAHDIN
4. BUKHARI
Ya, untuk kedua kalinya saya diberikan tugas untuk melanjutkan cerita saya sebelumnya. Akan tetapi, dalam cerita ini akan saya ceritakan perjalanan saya tentunya yang penuh dengan perdebatan yang panjang dengan tim atau teman-teman yang lain dan juga lebih membutuhkan waktu dan usaha yang benar-benar nyata dalam perjalan kedua saya menegenai naskah kuno. Sebelum berangkat ke lokasi yang sebenarnya kita tuju dan bertemu dengan para narasumber. Hari pertama yaitu pasa hari jumat saya dan teman-teman berencana untuk melakukan nyeput di desa Janapria yaitu lokasi pertama yang pernah kami kunjungi untuk mengetahui keberadaan naskah kuno. Yaitu dikediaman bapak Fathul, beliau adalah narasumber pertama yang kami wawancarai yang berkaitan dengan nakah kuno.
Rencana itu pun tiba-tiba berubah disebabkan oleh bapak Fathul sedang ada undangan dan acara sehingga kita tidak bisa bertemu dengannya. Penyebab yang kedua yang membuat saya mencari narasumber lain yaitu karena pak Fathul tidak mengerti apa itu nyeput. Banyak berarti beliau tidak tahu sama sekali ya, tapi karena bahasa yang kita gunakan membuat beliau tidak paham. Karena kata jeput berasal dari kata jeput-bejeput-beregem. Asal istilah jeput-bejebut berasal dari dialek none. Sehingga itu yang membuat beliau tidak paham terhadap apa yang kami berikan info tentang nyeput.
Itulah yang membuat kita pada hari itu harus mencari narasumber yang lain. Narasumber ini kami dapatkan ketika mencoba langsung ke salah satu tempat perkumpulan dan tempat membaca naskah kuno yaitu di Gedeng Beleq atau Bale Beleq yang pernah diceritakan oleh pak Fathul. Hal itulah yang membuat saya tidak putus asa untuk mencari narasumber pengganti beliau. Dan Alhamdulillah sebelum salat jumatan dimulai kami bertemu dnagan beberapa warga yang rumahnya berdekatan dengan Gedeng Beleq itu. Di sanalah saya dan teman-teman beristirahat dan mencari informasi terkaitit Gedeng Beleq atau Bale Beleq itu. Dan kami pun mendapatkan sedikit ceritan dan informasi dari warga setempat bahwa ada beberapa penggiat naskah dan tokoh adat yang mereka kenal dan seketika itu pun salah seorang warga menghubungi tokoh adat yang sering melakukan tradisi di Gedeng Beleq itu.
Selesai salat jumat kami langsung bergegas menuju narasumber yang sudah dihubungi tadi oleh salah satu warga. Setelah tiba di rumah ketua yang memimpin Gedeng Beleq, kami dipandang sedikit aneh karena tiba-tiba dating tanpa ada perjanjian ataukesepakatan sebelumnya. Hal itu tidak membuat narasumber kita mengusir dan menyuruh kita pulang. Akan tetapi, langsung dipersilahkan duduk dan menerima kami dengan baik. Narasumber pertama kami bernama bapak Usman yang merupakan salah satu penggiat naskah kono namun tidak pernah melakukan tradisi nyeput. Beliau juga memperkenalkan kita dengan teman-teman atau kelompok beliau yang memang memiliki tujuan yang sama yaitu untuk melestarikan kebudayaan dan komunitas mereka ingin meningkatkan peradaban kebudayaan yang harus dipertahankan.
Hari pertama pun berlalu, di hari kedua kami menuju tempat di mana mereka biasanya berkumpul untuk melakukan pertemuan dengan para tokoh adat dan penggiat naskah kuno, yaitu di Bascamp, Taman Wisata Bonjeruk. Tempat itu dilengkapi dengan taman yang indah yang tidah hanya dihiasi dengan bunga saja akan tetapi ditanami buah stroberi, serta ada tempat untuk memancing. Setelah para narasumber tiba dilokasi, kami langsung memulai tradisi nyemut yang dibantu oleh tiga narasumber yang merupakan satu komunitas dengan bapak Usman. Mereka adalah bapak Hasan yang sudah mempelajari naskah kuno selama tujuh tahun, bapak Sahdin beliau mulai menjadi pembaca dan penggiat naskah ketika masih kecil kurang kebih saat berusia enam sampai tujuh tahun, dan bapak Buhori sama dengan bapak Sahdin dan masih menjadi penggiat naskah sampai sekarang.
Ok, orang pertama yang melakukan tradisi nyeput itu adalah saya sendiri. Naskah yang saya pilih adalah takepan. Sebelum nyeput ada beberapa langkah atau ritual yabg harus dilakukan yaitu, memjamkan dengan rapat, luruskan niat, dan baru setelah itu langsung mengambil satu lembar dari takepan itu.
Pada saat itu saya mendapatkan ditakepan itu kategori Tembang Pangkur yang berarti tegas dan setia. Bait yang saya pilih dicarikan tembangnya dulu baru dibacakan dan diartikan oleh pujangga atau yang biasanya sebagai penerjemah naskah. Dan isi lembaran naskah yang saya jeput itu adalah ada seorang putrid yang ditinggal oleh suaminya dan dalam waktu yang bersamaan ada seorang raja yang menyukai Dende Sinar Mulia. Akan tetapi dende Sinar Mulia tidak mau karena ingin menunggu suaminya. Cinta sang raja kepada Dende Sinar Mulia begitu besar diumpakan setinggi panggung yang dibuatnya karena itu permintaan atau salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh sang raja untuk mendapatkan Dende Sinar Mulia. Syarat itu diberikannya supaya raja tidak sanggup membuatnya, akan tetapi raja berhasil membuat panggung itu.
Sang putri gelisah dan tetap tidak mau kepada sang raja. Sebenarnya tujuan syarat yang Dende Sinar Mulia kepada raja adalah untuk melihat sejauh mana kemampuan seorang raja membuat panggung sejauh 100 depe. Namun kisah cinta sang raja kepada Dende Sinar Mulia tak terbalaskan dan behujung pada penolakan dari Dende Sinar Mulia.
Maksud dari cerita di atas yaitu bahwa saya adalah seorang yang setia kepada pasangannya. Dan akan melakukan apa saja untuk mempertahankan kisah asmaranya dengan kekasih yang saya cintai. Meskipun saya ditinggal akan tetapi semua itu akan berlalu dan saya bisa menghadapinya.
Lombok Barat, 13 November 2019
Penulis

